Kalsium (Ca)
Kalsium merupakan mineral yang paling banyak terdapat dalam tubuh, yaitu 1,5-2% dari berat badan orang dewasa atau kurang lebih sebanyak 1 kg. Dari jumlah ini, 99% berada di dalam jaringan keras, yaitu tulang dan gigi terutama dalam bentuk hidroksiapatit. Kalsium tulang berada dalam keadaan seimbang dengan kalsium plasma pada konsentrasi kurang lebih 2,25-2,60 mmol/l (9-10,4 mg/100 ml). Densitas tulang berbeda menurut umur, meningkat pada bagian pertama kehidupan dan menurun secara berangsur setelah dewasa. Selebihnya kalsium tersebar luas di dalam tubuh, di dalam cairan ekstra seluler dan intra seluler kalsium memegang peranan penting dalam mengatur fungsi sel, seperti untuk transmisi syaraf, kontraksi otot, penggumpalan darah dan menjaga permeabilitas membran sel. Kalsium mengatur pekerjaan hormon-hormon dan faktor pertumbuhan.
Absorpsi dan ekskresi kalsium
Dalam keadaan normal sebanyak 30-50% kalsium yang dikonsumsi diabsorpsi tubuh. Kemampuan absorpsi lebih tinggi pada masa pertumbuhan, dan menurun pada proses penuaan. Kemampua absorpsi pada laki-laki lebih tinggi daripada perempuan pada semua golongan usia. Absorpsi kalsium teruama terjadi di bagian atas usus halus yaitu duodenum. Kalsium hanya bisa diabsorpsi bila terdapat dalam bentuk larut air dan tidak mengendap karena unsur makanan lain seperti oksalat. Kalsium yang tidak diabsorpsi dikeluarkan melalui feses. Jumlah kalsium yang diekskresi melalui urin mencerminkan jumlah kalsium yang diabsorpsi. Kehilangan kalsium melalui urin meningkat pada asidosis dan pada konsumsi fosfor tinggi. Kehilangan kalsium juga terjadi melalaui sekresi cairan yang masuk ke dalam saluran cerna dan melalui keringat.
Kalsium merupakan mineral yang paling banyak terdapat dalam tubuh, yaitu 1,5-2% dari berat badan orang dewasa atau kurang lebih sebanyak 1 kg. Dari jumlah ini, 99% berada di dalam jaringan keras, yaitu tulang dan gigi terutama dalam bentuk hidroksiapatit. Kalsium tulang berada dalam keadaan seimbang dengan kalsium plasma pada konsentrasi kurang lebih 2,25-2,60 mmol/l (9-10,4 mg/100 ml). Densitas tulang berbeda menurut umur, meningkat pada bagian pertama kehidupan dan menurun secara berangsur setelah dewasa. Selebihnya kalsium tersebar luas di dalam tubuh, di dalam cairan ekstra seluler dan intra seluler kalsium memegang peranan penting dalam mengatur fungsi sel, seperti untuk transmisi syaraf, kontraksi otot, penggumpalan darah dan menjaga permeabilitas membran sel. Kalsium mengatur pekerjaan hormon-hormon dan faktor pertumbuhan.
Absorpsi dan ekskresi kalsium
Dalam keadaan normal sebanyak 30-50% kalsium yang dikonsumsi diabsorpsi tubuh. Kemampuan absorpsi lebih tinggi pada masa pertumbuhan, dan menurun pada proses penuaan. Kemampua absorpsi pada laki-laki lebih tinggi daripada perempuan pada semua golongan usia. Absorpsi kalsium teruama terjadi di bagian atas usus halus yaitu duodenum. Kalsium hanya bisa diabsorpsi bila terdapat dalam bentuk larut air dan tidak mengendap karena unsur makanan lain seperti oksalat. Kalsium yang tidak diabsorpsi dikeluarkan melalui feses. Jumlah kalsium yang diekskresi melalui urin mencerminkan jumlah kalsium yang diabsorpsi. Kehilangan kalsium melalui urin meningkat pada asidosis dan pada konsumsi fosfor tinggi. Kehilangan kalsium juga terjadi melalaui sekresi cairan yang masuk ke dalam saluran cerna dan melalui keringat.
Fungsi kalsium, antara lain sebagai berikut :
1. Untuk pembentukan tulang dan gigi
2. Untuk kontraksi otot
3. Untuk transmisi syaraf
4. Untuk mengatur penggumpalan darah
5. Untuk menjaga permeabilitas membran sel
6. Untuk mengatur pekerjaan hormon dan faktor pertumbuhan
7. Sebagai katalisator reaksi-reaksi biologik
Faktor-faktor yang meningkatkan absorpsi kalsium, antara lain sebagai berikut :
Semakin tinggi kebutuhan dan semakin rendah persediaan kalsium dalam tubuh
1. Peningkatan kebutuhan terjadi pada masa pertumbuhan, pada saat kehamilan, menyusui, defisiensi kalsium dan tingkat aktivitas fisik yang meningkatkan densitas tulang. Jumlah kalsium yang dikonsumsi mempengaruhi absorpsi kalsium. Penyerapan akan meningkat bila kalsium yang dikonsumsi menurun.
Keberadaan vitamin D
2. Vitamin D dalam bentuk aktif 1,25(OH)D3 merangsang absorpsi kalsium melalui langkah-langkah kompleks. Vitamin D meningkatkan absorpsi kalsium pada mukosa usus dengan cara merangsang produksi protein-protein kalsium. Absorpsi kalsium paling baik terjadi dalam keadaan asam. Asam klorida yang dikeluarkan lambung membantu absorpsi dengan cara menurunkan pH di bagian atas duodenum. Asam amino tertentu meningkatkan pH saluran cerna, dengan demikian membantu absorpsi kalsium.
Aktivitas fisik
3. Aktivitas fisik berpengaruh baik terhadap absorpsi kalsium
4. Keberadaan laktosa
Laktosa meningkatkan absorpsi bila tersedia cukup enzim laktase. Sebaliknya, bila terdapat defisiensi laktase, laktosa menurunkan absoprsi kalsium.
Faktor-faktor yang menghambat absorpsi kalsium, antara lain sebagai berikut :
1. Untuk pembentukan tulang dan gigi
2. Untuk kontraksi otot
3. Untuk transmisi syaraf
4. Untuk mengatur penggumpalan darah
5. Untuk menjaga permeabilitas membran sel
6. Untuk mengatur pekerjaan hormon dan faktor pertumbuhan
7. Sebagai katalisator reaksi-reaksi biologik
Faktor-faktor yang meningkatkan absorpsi kalsium, antara lain sebagai berikut :
Semakin tinggi kebutuhan dan semakin rendah persediaan kalsium dalam tubuh
1. Peningkatan kebutuhan terjadi pada masa pertumbuhan, pada saat kehamilan, menyusui, defisiensi kalsium dan tingkat aktivitas fisik yang meningkatkan densitas tulang. Jumlah kalsium yang dikonsumsi mempengaruhi absorpsi kalsium. Penyerapan akan meningkat bila kalsium yang dikonsumsi menurun.
Keberadaan vitamin D
2. Vitamin D dalam bentuk aktif 1,25(OH)D3 merangsang absorpsi kalsium melalui langkah-langkah kompleks. Vitamin D meningkatkan absorpsi kalsium pada mukosa usus dengan cara merangsang produksi protein-protein kalsium. Absorpsi kalsium paling baik terjadi dalam keadaan asam. Asam klorida yang dikeluarkan lambung membantu absorpsi dengan cara menurunkan pH di bagian atas duodenum. Asam amino tertentu meningkatkan pH saluran cerna, dengan demikian membantu absorpsi kalsium.
Aktivitas fisik
3. Aktivitas fisik berpengaruh baik terhadap absorpsi kalsium
4. Keberadaan laktosa
Laktosa meningkatkan absorpsi bila tersedia cukup enzim laktase. Sebaliknya, bila terdapat defisiensi laktase, laktosa menurunkan absoprsi kalsium.
Faktor-faktor yang menghambat absorpsi kalsium, antara lain sebagai berikut :
Kekurangan vitamin D
Keberadaan asam oksalat
Keberadaan asam fitat
Keberadaan serat
Stress mental atau fisik
Proses penuaan
Keberadaan fosfor dalam suasana basa
Fosfor (P)
Fosfor merupakan mineral kedua terbanyak di dalam tubuh, yaitu 1% dari berat badan. Kurang lebih 85% fosfor di dalam tubuh terdapat sebagai garam kalsium fosfat, yaitu bagian dari kristal hidroksiapatit di dalam tulang dan gigi yang tidak dapat larut. Hidroksiapatit memberi kekuatan dan kekakuan pada tulang. Fosfor di dalam tulang berada dalam perbandingan 1:2 dengan kalsium. Fosfor selebihnya terdapat di dalam semua sel tubuh, separuhnya di dalam otot dan di dalam cairan ekstraseuler. Fosfor merupakan bagian dari asam nukleat DNA dan RNA yang terdapat dalam tiap inti sel dan sitoplasma tiap sel hidup. Sebagai fosfolipid, fosfor merupakan komponen struktural dinding sel. Sebagai fosfat organik, fosfor memegang peranan penting dalam reaksi yang berkaitan dengan penyimpanan atau pelepasan enaergi dalam bentuk Adenin Trifosfat (ATP).
Absorpsi dan metabolisme fosfor
Fosfor dapat diabsorpsi secara efisein sebagai fosfor bebas di dalam usus setelah dihidrolisis dan dilepas dari makanan. Bayi dapat menyerap 85-90% fosfor berasal dari air susu ibu. Sebanyak 65-70% fosfor berasal dari susu sapi dan 50-70% fosfor berasal dari susunan makanan normal yang dapat diabsorpsi oleh anak-anak dan orang dewasa. Bila konsumsi fosfor rendah, taraf absorpsi dapat mencapai 90% dari konsumsi fosfor.
Fosfor dibebaskan dari makanan oleh enzim alkalin fosfatase di dalam mukosa usus halus dan diabsorpsi secara aktif dan difusi pasif. Absorpsi aktif dibantu oleh bentuk aktif vitamin D. Sebagian besar fosfor di dalam darah terutama terdapat sebagai fosfat anorganik atau sebagai fosfolipida. Kadar fosfor di dalam darah daitur oleh hormon paratiroid yang dikeluarkan oleh kelenjar paratiroid dan oleh hormon kalsitonin. Kedua hormon tesebut berinteraksi dengan vitamin D untuk mengontrol jumlah fosfor yang diserap, jumlah yang ditahan ginjal, serta jumlah yang dibebaskan dan disimpan dalam tulang. Hormon paratiroid menurunkan reabsorpsi fosfor oleh ginjal. Kalsitonin meningkatkan ekskresi fosfat oleh ginjal. Konsumsi fosfor yang relatif tinggi terhadap kalsium sehingga diperoleh perbandingan P:Ca yang tinggi dalam serum akan merangsang pembentukan hormon paratiroid yang mendorong pengeluaran fosfor dari tubuh.
Fungsi fosfor bagi tubuh, antara lain sebagai berikut :
Keberadaan asam oksalat
Keberadaan asam fitat
Keberadaan serat
Stress mental atau fisik
Proses penuaan
Keberadaan fosfor dalam suasana basa
Fosfor (P)
Fosfor merupakan mineral kedua terbanyak di dalam tubuh, yaitu 1% dari berat badan. Kurang lebih 85% fosfor di dalam tubuh terdapat sebagai garam kalsium fosfat, yaitu bagian dari kristal hidroksiapatit di dalam tulang dan gigi yang tidak dapat larut. Hidroksiapatit memberi kekuatan dan kekakuan pada tulang. Fosfor di dalam tulang berada dalam perbandingan 1:2 dengan kalsium. Fosfor selebihnya terdapat di dalam semua sel tubuh, separuhnya di dalam otot dan di dalam cairan ekstraseuler. Fosfor merupakan bagian dari asam nukleat DNA dan RNA yang terdapat dalam tiap inti sel dan sitoplasma tiap sel hidup. Sebagai fosfolipid, fosfor merupakan komponen struktural dinding sel. Sebagai fosfat organik, fosfor memegang peranan penting dalam reaksi yang berkaitan dengan penyimpanan atau pelepasan enaergi dalam bentuk Adenin Trifosfat (ATP).
Absorpsi dan metabolisme fosfor
Fosfor dapat diabsorpsi secara efisein sebagai fosfor bebas di dalam usus setelah dihidrolisis dan dilepas dari makanan. Bayi dapat menyerap 85-90% fosfor berasal dari air susu ibu. Sebanyak 65-70% fosfor berasal dari susu sapi dan 50-70% fosfor berasal dari susunan makanan normal yang dapat diabsorpsi oleh anak-anak dan orang dewasa. Bila konsumsi fosfor rendah, taraf absorpsi dapat mencapai 90% dari konsumsi fosfor.
| Contoh Makanan Sumber Kalsium (source: nutritionalmuscletesting.com) |
Fungsi fosfor bagi tubuh, antara lain sebagai berikut :
Pertumbuhan tulang dan gigi
Mengatur pengalihan energi
Absorpsi dan transportasi zat gizi
Pengatur keseimbangan asam dan basa
Pengaruh interaksi fosfat dan kalsium
Penelitian tentang pengaruh interaksi fosfat khususnya terhadap penurunan kalsium dalam urin dan peningkatan keseimbangan kalsium ini menggunakan metode dengan komputerisasi. Metode komputerisasi ini menggunakan metode database dari berbagai sumber yaitu OVID dan PubMed, Cochrane Database of Systematic Reviews, Cochrane Controled Trials Register dan www.clnicaltrials.gov dengan berbagai macam sumber tahunnya. Dari hasil penelitian didapatkan hasil bahwa secara signifikan terdapat penurunan kalsium dalam urin sebagai respons supplement phosphate yang diberikan. Konsumsi phosphate yang semakin tinggi akan menurunkan kalsium dalam urin dan peningkatan retensi dari kalsium. Dalam penelitian tersebut juga tidak ditemukan bukti bahwa intake phosphate berkontribusi pada demineralisasi tulang atau ekskresi kalsium pada urin.
Pengaruh interaksi vitamin D dan suplementasi kalsium dalam menurunkan resiko kanker Penelitian tersebut berlangsung selama 4 tahun dilakukan dengan menggunakan relawan yang direkrut dari 9 tempat di daerah sebelah timur Nebraska dengan menggunakan peneleponan secara acak. Relawan yang digunakan berumur kurang dari 55 tahun. 1180 relawan secara acak diperlakukan dengan 3 perlakuan. Perlakuan 1 adalah placebo dimana diberi vitamin D placebo dan kalsium khusus placebo. Perlakuan 2 adalah calcium dimana terdiri dari kalsium sitrat (1400 mg Ca/d) atau kalsium karbonat (1500 mg Ca/d) ditambah vitamin D placebo dan perlakuan 3 adalah calcium plus vitamin D terdiri dari klasium (seperti grup Ca) ditambah 1000 IU (25 mikro gram) cholecalciferol (vitamin D3)/d.
Dari penelitian yang dilakukan didapatkan hasil seperti pada tabel 1. Hasil tersebut menyatakan bahwa untuk semua jenis kanker, kelompok yang diperlakukan dengan hanya kalsium dan kalsium ditambah vitamin D mempunyai nilai rata-rata lebih sedikit daripada kelompok placebo. Atau dapat dikatakan bahwa konsumsi kalsium atau konsumsi kalsium ditambah dengan vitamin D dapat menurunkan resiko untuk semua jenis kanker. Pada penelitian tersebut mekanisme kalsium dalam menurunkan kanker belum jelas mekanismenya, namun dapat diduga ada kaitannya dengan status vitamin D.
Pengaruh intake kalsium dan fosfor dalam proses osteoporosis
Penelitian ini menggunakan relawan sejumlah 2240 dengan usia lebih dari 40 tahun yang dievaluasi dari bulan Maret hingga April 2006. Relawan terdiri dari pria dan wanita dari semua kelas sosial ekonomi dan tingkat pendidikan yang tinggal di Brasil. Data dikumpulkan dengan cara relawan disuruh mengisi kuesioner yang telah disediakan.
Dari hasil penelitian yang tertera pada tabel diatas, ternyata tulang keropos terdapat pada laki-laki sebesar 13% dan pada wanita sebesar 15%. Wanita yang keropos tulangnya secara signifikan diakibatkan oleh intake kalsium, phosphor dan magnesium yang semakin tinggi. Peningkatan intake phosphor berhubungan dengan keroposnya tulang dalam tubuh.
Conclussion
Kesimpulan dari review ini antara lain adalah sebagai berikut :
1. Intake pshosphate yang semakin tinggi dapat dihubungkan dengan penurunan kalsium dalam urin dan peningkatan calcium retention
2. Peningkatan intake kalsium dan vitamin D dapat mengurangi semua jenis kanker pada wanita post menopause Peningkatan intake phosphor yang semakin tinggi dapat dihubungkan dengan kekeroposan tulang
Reference
Tanis R Fenton, Andrew W Lyon, Michael Eliasziw,Suzanne C Tough, and David A Hanley. 2009. Phosphate decreases urine calcium and increases calcium balance: A meta-analysis of the osteoporosis acid-ash diet hypothesis. Nutrition Journal, 8:41.
Marcelo M Pinheiro, Natielen J Schuch, Patrícia S Genaro, Rozana M Ciconelli, Marcos B Ferraz and Lígia A Martini. 2009. Nutrient intakes related to osteoporotic fractures in men and women – The Brazilian Osteoporosis Study (BRAZOS). Nutrition Journal. 8:6.
Joan M Lappe, Dianne Travers-Gustafson, K Michael Davies, Robert R Recker, and Robert P Heaney. 2010. Vitamin D and calcium supplementation reduces cancer risk:results of a randomized trial. The American Journal of Clinical Nutrition, 85:1586-91.
Mengatur pengalihan energi
Absorpsi dan transportasi zat gizi
Pengatur keseimbangan asam dan basa
Pengaruh interaksi fosfat dan kalsium
Penelitian tentang pengaruh interaksi fosfat khususnya terhadap penurunan kalsium dalam urin dan peningkatan keseimbangan kalsium ini menggunakan metode dengan komputerisasi. Metode komputerisasi ini menggunakan metode database dari berbagai sumber yaitu OVID dan PubMed, Cochrane Database of Systematic Reviews, Cochrane Controled Trials Register dan www.clnicaltrials.gov dengan berbagai macam sumber tahunnya. Dari hasil penelitian didapatkan hasil bahwa secara signifikan terdapat penurunan kalsium dalam urin sebagai respons supplement phosphate yang diberikan. Konsumsi phosphate yang semakin tinggi akan menurunkan kalsium dalam urin dan peningkatan retensi dari kalsium. Dalam penelitian tersebut juga tidak ditemukan bukti bahwa intake phosphate berkontribusi pada demineralisasi tulang atau ekskresi kalsium pada urin.
Pengaruh interaksi vitamin D dan suplementasi kalsium dalam menurunkan resiko kanker Penelitian tersebut berlangsung selama 4 tahun dilakukan dengan menggunakan relawan yang direkrut dari 9 tempat di daerah sebelah timur Nebraska dengan menggunakan peneleponan secara acak. Relawan yang digunakan berumur kurang dari 55 tahun. 1180 relawan secara acak diperlakukan dengan 3 perlakuan. Perlakuan 1 adalah placebo dimana diberi vitamin D placebo dan kalsium khusus placebo. Perlakuan 2 adalah calcium dimana terdiri dari kalsium sitrat (1400 mg Ca/d) atau kalsium karbonat (1500 mg Ca/d) ditambah vitamin D placebo dan perlakuan 3 adalah calcium plus vitamin D terdiri dari klasium (seperti grup Ca) ditambah 1000 IU (25 mikro gram) cholecalciferol (vitamin D3)/d.
Dari penelitian yang dilakukan didapatkan hasil seperti pada tabel 1. Hasil tersebut menyatakan bahwa untuk semua jenis kanker, kelompok yang diperlakukan dengan hanya kalsium dan kalsium ditambah vitamin D mempunyai nilai rata-rata lebih sedikit daripada kelompok placebo. Atau dapat dikatakan bahwa konsumsi kalsium atau konsumsi kalsium ditambah dengan vitamin D dapat menurunkan resiko untuk semua jenis kanker. Pada penelitian tersebut mekanisme kalsium dalam menurunkan kanker belum jelas mekanismenya, namun dapat diduga ada kaitannya dengan status vitamin D.
Pengaruh intake kalsium dan fosfor dalam proses osteoporosis
Penelitian ini menggunakan relawan sejumlah 2240 dengan usia lebih dari 40 tahun yang dievaluasi dari bulan Maret hingga April 2006. Relawan terdiri dari pria dan wanita dari semua kelas sosial ekonomi dan tingkat pendidikan yang tinggal di Brasil. Data dikumpulkan dengan cara relawan disuruh mengisi kuesioner yang telah disediakan.
Dari hasil penelitian yang tertera pada tabel diatas, ternyata tulang keropos terdapat pada laki-laki sebesar 13% dan pada wanita sebesar 15%. Wanita yang keropos tulangnya secara signifikan diakibatkan oleh intake kalsium, phosphor dan magnesium yang semakin tinggi. Peningkatan intake phosphor berhubungan dengan keroposnya tulang dalam tubuh.
Conclussion
Kesimpulan dari review ini antara lain adalah sebagai berikut :
1. Intake pshosphate yang semakin tinggi dapat dihubungkan dengan penurunan kalsium dalam urin dan peningkatan calcium retention
2. Peningkatan intake kalsium dan vitamin D dapat mengurangi semua jenis kanker pada wanita post menopause Peningkatan intake phosphor yang semakin tinggi dapat dihubungkan dengan kekeroposan tulang
Reference
Tanis R Fenton, Andrew W Lyon, Michael Eliasziw,Suzanne C Tough, and David A Hanley. 2009. Phosphate decreases urine calcium and increases calcium balance: A meta-analysis of the osteoporosis acid-ash diet hypothesis. Nutrition Journal, 8:41.
Marcelo M Pinheiro, Natielen J Schuch, Patrícia S Genaro, Rozana M Ciconelli, Marcos B Ferraz and Lígia A Martini. 2009. Nutrient intakes related to osteoporotic fractures in men and women – The Brazilian Osteoporosis Study (BRAZOS). Nutrition Journal. 8:6.
Joan M Lappe, Dianne Travers-Gustafson, K Michael Davies, Robert R Recker, and Robert P Heaney. 2010. Vitamin D and calcium supplementation reduces cancer risk:results of a randomized trial. The American Journal of Clinical Nutrition, 85:1586-91.
No comments:
Post a Comment