Friday, 25 May 2012

Tinjauan Pustaka | Penentuan Umur Simpan

Perlakuan selamam proses dan distribusi serta pengaruh kondisi lingkungan dapat menyebabkan penurunan dan kerusakan produk pangan. Akibatnya makanan tersebut tidak dapat diterima karena membahayakan konsumen, oleh karena itu, kinetika penurunan mutu sangat penting dalam menentukan evaluasi penentuan umur simpan suatu produk. Pemilihan model yang tepat untuk menyatakan penurunan mutu harus ditetapkan dulu dalam penentuan umur simpan. Setelah itu ditetapkan parameter penyebab kerusukan fisik, kimia dan mikrobiologis (Theodore and Labuza, 2000).
http://beprepared.com/media/wysiwyg/home/use-by-date.jpg
Umur Simpan (source: beprepared.com)

Beberapa metode yang digunakan untuk menentukan umur simpan produk makanan.

1. Studi Literatur

Penetapan umur simpan diperoleh dari literatur yang analog dengan produk tersebut. Berdasarkan asumsi bahwa produk yang mempunyai proses produksi yang sama akan menghasilkan umur simpan yang hampir sama.

2. Turnover Time

Jangka waktu produk selama berada di rak penjual sehingga konsumen memperkirakan sendiri berapa lama umur simpannya. Ini tidak menunnjukkan umur simpan yang sebenarnya, tapi hanya umur simpan yang dibutuhkan. Ini diasumsikan bahwa produk masih dapat diterima untuk beberapa waktu tertentu berada di penjual.

3. End Point Study

Produk diambil secara random sampling dari penjual eceran kemudian di tes di laboratorium untuk dianalisa kualitasnya. Dari sinilah umur simpan dapat ditetapkan karena produk sudah mengalami perlakuan selama penyimpanan dan penjualan.

4. Acelerated Shelf Life Testing

Penerapan umur simpan dengan mempercepat kerusakan produk yaitu dengan mengkondisikan produk di luar kondisi normal dengan tujuan untuk menentukan laju reaksi kerusakannya. Setelah laju reaksi penurunan mutu diketauhi, umur simpan dapat ditentukan dengan persamaan kinetika reaksi (Robetson, 1993).

5. Metode Konvensional

Metode ini dilakukan dengan menyimpan produk pada tempat penyimpanan melalui uji organoleptik untuk mengetauhi batas penerimaan panelis. Pengamatan dihentikan sampai perubahan yang terjadi menunjukkan penurunan mutu sehingga produk tidak layak dikomsumsi (Arpah dkk., 1999).

6. Metode diagram Isohidrik, Isokronik dan Isokronik Penyimpanan

Metode ini digunakan untuk biji-bijian dan serealia dengan menggambarkan diagram Isohidrik, Isotermik dan Isokronik. Diagram-diagram tersebut dibuat hasil percobaan empiris yan memerlukan waktu yang lama. Untuk dapat membuat diagram tersebut harus ditentukan dulu salah satu faktor mutu yang menjadi tolak ukur. Misalnya susut bahan kering karena respirasi, kontaminasi jasad renik (kapang), asam lemak bebas dan viabilitas benih (syarif dan Halid, 1993).


Reference

Arpah. Hermanianto dan Jati W. K. 1999. Penentuan Umur Simpan Produk Ekstruksi Dari Hasil Samping Penggilingan Padi (Menir Dan Bekatul) Dengan Metode Konvensional, Kinetika Arrhenius Dan Sorpsi Ishotermis. Seminar Teknologi Pangan.

Syarief, R. Dan Y. Halid. 1993. Teknologi penyimpanan pangan. Penerbit ancan. Jakarta.

Robetson, G. L. 1993. Food Packing Principle and Practice. Marcell dekker, inc New York.
 
Theodore, P. dan labuza. 2000. The shelf for life : an updateto continued effort in understanding pratical. Strategies for determining and testing the self life of food product. http://www.fsci.umm.edu/ ted.labuza/pdf.files/ papers/search%search%20for%20shelf%2-life-ftq.pdf

No comments:

Post a Comment