Thursday, 24 May 2012

Tinjauan Pustaka | Umur Simpan Pangan (Food Shelf Life)


Hasil atau akibat dari berbagai reaksi kimiawi yang terjadi didalam produk makanan bersifat akumulatif dan ireversibel (tak dapat dipulihkan kembali) selama penyimpanan, sehingga pada saat tertentu hasil reaksi tersebut mengakibatkan mutu makanan tak lagi dapat diterima. Jangka waktu akumulasi hasil reaksi yang mengakibatkan mutu produk makanan tidak lagi dapat diterima lagi disebut jangka waktu kedaluarsa (Syarief dan Halid, 1993). Umur simpan merupakan aspek yang penting dalam desain produk, karena menyangkut keamanan dan tingkat kepercayaan konsumen. Ketika produk dalam kondisi yang tidak dapat dikomsumsi, dapat dikatakan bahwa produk telah mencapai akhir simpan. (Tookis et all, 2003).
http://beprepared.com/media/wysiwyg/home/use-by-date.jpg
Umur Simpan (source: beprepared.com)

Menurut Arpah dan Syarief (2000) Insitut of Food Technology (IFT) menyatakan umur simpan produk pangan adalah selang waktu antara saat komsumsi dimana produk berada dalam kondisi yang memuaskan pada sifat-sifat penampakan, rasa, aroma, tekstur dan nilai gizi. Floros (1993) menambahkan bahwa umur simpan adalah waktu yang diperlukan produk pangan yang berada dalam kondisi penyimpanan, untuk sampai pada suatu level atau tingkatan degradasi mutu tertentu.

Perusahaan makanan telah menetapkan standart “close code” untuk mengindikasikan waktu proses dan pengemasan seperti hari dan tahun atau jam pada pengemas primer atau sekunder. Seiring dengan perkembangan konsumen yang ingin serba tahu, sistem “opening dating” diterapkan sehingga kode tersebut mudah dibaca dan memberikan informasi pada konsumen lebih merasa aman saat mengkomsumsinya. Ada beberapa tipe penulisan tentang umur simpan:

1. Pack date: menunjukkan tanggal sewaktu poduk dikemas dalam kemasan primer. Tapi tipe ini tidak memberikan informasi yang spesifik tentang berapa lama produk bertahan setelah dibeli.

2. Display date: menunjukkan tanggal sewaktu produk diletakkan pada rak penjual.

3. Pull date atau sell by date: menunjukkan tanggal terakhir produk harus dijual dengan tujuan untuk memberikan jangka waktu bagi konsumen untuk mengkomsumsinya.

4. Best before best if used by date: tanggal terakhir kualitas tinggi maksimum.

5. Use by date/expiration date: tanggal setelah makanan tidak lagi berada pada tingkat kualitas yang biasa diterima (Robetson 1993).


Reference

Arpah. Hermanianto dan Jati W. K. 1999. Penentuan Umur Simpan Produk Ekstruksi Dari Hasil Samping Penggilingan Padi (Menir Dan Bekatul) Dengan Metode Konvensional, Kinetika Arrhenius Dan Sorpsi Ishotermis. Seminar teknologi pangan

Floros, J. D. 1993. Shelf life predition of package food. Di dalam shelf life Studies of Food and Beverage. Chemical. Biological and nutritional aspect (G. Charalambous, ed) Elsevier. London.

Robetson, G. L. 1993. Food Packing Principle and Practice. Marcell dekker, inc New York.

Syarief, R. Dan Y. Halid. 1993. Teknologi penyimpanan pangan. Penerbit ancan. Jakarta.

Taokis, P. S., T. D. Labuza, I. S. Saguy. 2003. The Handbook of Food Engenering Practice Chapter 10. http://courses.che.umn.edu/oofsen8334-if.pdfi/pdffolder/crc%20shelflife%20chapter.pdf.

No comments:

Post a Comment