Hipertensi merupakan faktor resiko utama untuk penyakit kardiovaskuler (CVD) dan artherosklerosis. Hubungan yang kuat terjadi pada tekanan darah dan terjadinya stroke serta penyakit pada arteri jantung atau biasa disebut sebagai penyumbatan pembuluh arteri. Konsumsi sodium,potassium,kalsium,komposisi asam lemak dan obesitas merupakan faktor yang berkontribusi didalam menyebabkan timbulnya hipertensi (Chang,2006).Penelitian Ogden et al., (1999) menyebutkan bahwa konsumsi tinggi sodium berhubungan dengan peningkatan resiko kematian akibat jantung, dilain pihak penelitian Bazzano et al., (2001) konsumsi potassium tidak berkorelasi dengan resiko penyakit jantung.
Terdapat 2 jenis potasium yang biasa dikonsumsi yaitu Potasium chloride dan Potassium sitrat yang banyak terdapat pada buah-buahan dan sayuran.Pada penelitian He et al., (2005) dikeetahui bahwa pemberian dua jenis potassium yang berbeda (potassium chloride dan potassium sitrat) tidak memiliki efek yang berbeda dalam menurunkan tekanan darah pada subyek dengan hipertensi essensial.
Di negara asia,khususnya jepang penelitian prospektif selama 7 tahun menunjukkan hubungan yang positif antara konsumsi sodium dengan kematian akibat stroke,namun tidak dilaporkan adanya hubungan antara konsumsi sodium dan potasium dengan resiko jantung koroner .Menurut survey Ministry of Health,Labour and Welfare (2004) Kematian akibat stroke di negara jepang lebih tinggi dibandingkan dengan negara barat mungkin disebabkan karena makanan tradisonal jepang yang sering menggunakan saos kedelai,pasta kedelai dan asinan (salty pickles) menyumbang 74 % total konsumsi sodium. Berdasarkan penelitian INTERSALT,ekskresi sodium dalam 24 jam adalah 167-201 mmol/hari pada orang jepang sedangkan pada orang amerika seesar 96-201 mmol/hari. Sedangkan ekskresi potassium orang jepang berkisar 41-46 dan orang amerika 23-52 mmol/hari (Umesawa et al.,2008)
Untuk meneliti hubungan antara sodium dan potassium dengan resiko peyakit jantung sangatlah penting bagi public health di jepang. Maka pada penelitian Umesawa et al., (2008) ini bertujuan untuk menentukan hubungan antara konsumsi sodium dan potassium terhadap resiko kematian akibat stroke,subtipe stroke,penyakit jantung dan total penyakit jantung pada orang jepang laki-laki dan perempuan.
Penelitian Umesawa et al.,(2008) ini dilakukan pada tahun 1988 sampai dengan 1990 secara kohort pada 110792 subyek usia 40 – 79 ini menyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi sodium dengan kematian akibat intraparenchymal hemorrhage. Selain itu,setiap kenaikan 100-mmol konsumsi sodium meningkatkan kematian akibat total stroke sebesar 83 %.
Berdasarkan analisis multivariat pada penelitian ini diketahui pula bahwa konsumsi sodium dan potasiium secara berkebalikan berhubungan dengan terjadinya penyakit kardiovaskular. Kenaikan konsumsi potassium menurunkan kematian akibat jantung koroner. .Khaw et al., (1987) dalam umemura et al., mengemukakan bahwa setiap kenaikan 10-mmol konsumsi potassium menurunkan resiko kematian stroke sebesar 40 %. Sedangkan konsumsi tinggi sodium meningkatkan secara signifikan kematian akibat penyakit kardiovaskular. Hal ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh J He et al., (1999) pada populasi amerika yang menyebutkan bahwa setiap kenaikan 100 mmol konsumsi sodium meningkatkan resiko insidensi stroke lebih tinggi sebesar 32 %.Berdasarkan penelitian ini juga terlihat bahwa kematian akibat total stroke,ischemic stroke,total penyakit kardiovaskular terlihat lebih tinggi pada subyek yang mengkonsumsi tinggi sodium dan rendah potassium serta tinggi sodium dan tinggi potasiium,namun tidak ditemukan pada subyek yang mengkonsumsi rendah sodium dan rendah potassium. Peran potassium dalam menurunkan kematian akibat penyakit kardiovaskular juga dilakukan oleh Chang etal., (2006) di taiwan. Penelitian ini menggunakan metode kohort dimana penelitian ini melihat perjalanan penyakit dari tahun 1995 hingga tahun 1999 pada subyek yang mengkonsumsi garam standar,yaitu garam yang mengandung 99,6 % sodium chloride dan 0,4 % zat additive sebagai kelompok kontrol yang teragi dalam dapur 1,3 dan 5 ,serta subyek yang mengkonsumsi garam yang diperkaya dengan potassium,yaitu dengan kandungan 49 % sodium chloride dan 49% potassium chloride.Subyek ini merupakan kelompok eksperimental yang terbagi dalam dapur 2 dan 3.
Pemberian garam yang diperkaya dengan potasium awalnya dicampur dengan garam reguler dengan perbandingan 1 sampai 3 diawal minggu kemudian ditingkatkan dari 1:1 menjadi 1:3 selama minggu kedua dan ketiga. Sedangkan pemberian garam standar sama dalam setiap waktunya. Hasil pada penelitian ini yaitu ditemukan bahwa proporsi subyek yang meninggal karena CVD pada kelompok eksperimental lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol,yaitu pada kelompok eksperimental (27 meniggal;1310.0 per 100.000 orang setahun) sedangkan pada kelompok kontrol yaitu (66 meninggal;2140 per 100.000 orang setahun). Kematian non CVD tidak berbeda pada kedua kelompok. Selain itu pada kelompok eksperimental terlihat memiliki umur harapan hidup lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol.
Potassium sendiri merupakan ion intraseluler paling banyak dan keberadaannya diatur oleh Na+K+ATPase dalam membran plasma atau biasa disebut sodium pump atau Na+K+ pump.Sodium pump merupakan sistem transpor aktif yang bertanggung jawab untuk pemeliharaan transmembran gradien Na dan K. Gradien ini menyediakan energi untuk beberapa fungsi selular penting (misalnya, kontrol potensial membran, volume sel, dan pH). Ini mencakup sel-sel dalam pembuluh darah (misalnya, endotel sel, sel-sel otot polos, dan saraf adrenergik) dan dalam jaringan yang mengelilingi mereka (misalnya, infark otot, tulang otot, otak) (Haddy et al.,2006).Potassium ini berkebalikan dengan Natrium. Pada saat natrium tinggi dalam plasma maka kalium banyak ditemukan di dalam sel dan jika asupan potassium menigkat maka ekskresi natrium akan meningkat pula. Hal inilah merupakan salah satu mekanisme potassium dalam menurunkan tekanan darah dan mengurangi resiko penyakit jantung,stroke dan hipertensi. Mekanisme lain yaitu konsumsi tinggi potensium dalam jangka waktu lama dapat meningkatkan pergantian Na+K+ATPase, menstimulasinya didalam sel otot vaskular dan sistem syaraf andregenik menghasilkan vasodilatasi otot-otot jantung. Selain itu peningkatan konsumsi potassium dapat meningkatkan produksi adrenal yaitu aldosteron,dimana aldosteron bekerja untuk mengatur keseimbangan Natrium Potassium di dalam tubuh (Haddy et al.,2006;Andy,2009;Adrogue dan Madras,2007). Penelitian He et al., (2005) menunjukkan pada individu yang mengkonsumsi potasium chloride dan potasium sitrat memiliki aktivitas renin atau aldosteron daripada kontrol.
Natrium sendiri merupakan ion yang banyak berada dalam plasma darah dan berfungsi mengatur permeabilitas sel serta pergerakan cairan,glukosa,insulin,dan asam –asam amino. Dengan demikian natrium menjadi unsur pokok dalam pengaturan keseimbangan asam basa,penghantaran impuls syaraf dan kerja otot. Jika Natrium jumlahnya berlebihan maka akan terjadi rasa haus yang merangsang untuk banyak minum. Cairan yang kita minum memang akan mengencerkan Natrium dalam plasma tetapi akibatnya volume Na dan cairan meningkat, dan apabila ginjal tidak segera dapat menghilangkan kelebihan cairan dengan natrium,maka akan membuat volume darah yang masuk ke jantung menjadi lebih besar,sehingga pada kasus hipertensi sangat beresiko terkena penyakit jantung karena beban kerja jantung yang terlalu berat,dan apabila pembuluh darah arteri tidak kuat,dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah dan menyebabkan stroke total atau iskhemik (Haddy et al.,2006;Andy,2009;Adrogue dan Madras,2007).
Untuk mencegah terjadinya peningkatan tekanan darah yang dapat beresiko terhadap serangan stroke dan penyakit jantung,diperlukan pengaturan khusus dalam konsumsi makanan. Oleh karena itu dikenal istilah DASH Diet (Dietary Approaches to Stop Hypertansion). Anjuran dari DASh Diet diantaranya adalah meningkatkan konsumsi sayuran dan buah-buahan, Peningkatan Potassium ditingkatkan dari rata-rata 2 gram menjadi 5 gram sehari, dan konsumsi rendah sodium dengan rata-rata konsumsi tidak lebih dari 1500 mg/hari (Haddy et al.,2005)
Terdapat 2 jenis potasium yang biasa dikonsumsi yaitu Potasium chloride dan Potassium sitrat yang banyak terdapat pada buah-buahan dan sayuran.Pada penelitian He et al., (2005) dikeetahui bahwa pemberian dua jenis potassium yang berbeda (potassium chloride dan potassium sitrat) tidak memiliki efek yang berbeda dalam menurunkan tekanan darah pada subyek dengan hipertensi essensial.
Di negara asia,khususnya jepang penelitian prospektif selama 7 tahun menunjukkan hubungan yang positif antara konsumsi sodium dengan kematian akibat stroke,namun tidak dilaporkan adanya hubungan antara konsumsi sodium dan potasium dengan resiko jantung koroner .Menurut survey Ministry of Health,Labour and Welfare (2004) Kematian akibat stroke di negara jepang lebih tinggi dibandingkan dengan negara barat mungkin disebabkan karena makanan tradisonal jepang yang sering menggunakan saos kedelai,pasta kedelai dan asinan (salty pickles) menyumbang 74 % total konsumsi sodium. Berdasarkan penelitian INTERSALT,ekskresi sodium dalam 24 jam adalah 167-201 mmol/hari pada orang jepang sedangkan pada orang amerika seesar 96-201 mmol/hari. Sedangkan ekskresi potassium orang jepang berkisar 41-46 dan orang amerika 23-52 mmol/hari (Umesawa et al.,2008)
Untuk meneliti hubungan antara sodium dan potassium dengan resiko peyakit jantung sangatlah penting bagi public health di jepang. Maka pada penelitian Umesawa et al., (2008) ini bertujuan untuk menentukan hubungan antara konsumsi sodium dan potassium terhadap resiko kematian akibat stroke,subtipe stroke,penyakit jantung dan total penyakit jantung pada orang jepang laki-laki dan perempuan.
| Stroke (source: strokecenter.org) |
Penelitian Umesawa et al.,(2008) ini dilakukan pada tahun 1988 sampai dengan 1990 secara kohort pada 110792 subyek usia 40 – 79 ini menyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi sodium dengan kematian akibat intraparenchymal hemorrhage. Selain itu,setiap kenaikan 100-mmol konsumsi sodium meningkatkan kematian akibat total stroke sebesar 83 %.
Berdasarkan analisis multivariat pada penelitian ini diketahui pula bahwa konsumsi sodium dan potasiium secara berkebalikan berhubungan dengan terjadinya penyakit kardiovaskular. Kenaikan konsumsi potassium menurunkan kematian akibat jantung koroner. .Khaw et al., (1987) dalam umemura et al., mengemukakan bahwa setiap kenaikan 10-mmol konsumsi potassium menurunkan resiko kematian stroke sebesar 40 %. Sedangkan konsumsi tinggi sodium meningkatkan secara signifikan kematian akibat penyakit kardiovaskular. Hal ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh J He et al., (1999) pada populasi amerika yang menyebutkan bahwa setiap kenaikan 100 mmol konsumsi sodium meningkatkan resiko insidensi stroke lebih tinggi sebesar 32 %.Berdasarkan penelitian ini juga terlihat bahwa kematian akibat total stroke,ischemic stroke,total penyakit kardiovaskular terlihat lebih tinggi pada subyek yang mengkonsumsi tinggi sodium dan rendah potassium serta tinggi sodium dan tinggi potasiium,namun tidak ditemukan pada subyek yang mengkonsumsi rendah sodium dan rendah potassium. Peran potassium dalam menurunkan kematian akibat penyakit kardiovaskular juga dilakukan oleh Chang etal., (2006) di taiwan. Penelitian ini menggunakan metode kohort dimana penelitian ini melihat perjalanan penyakit dari tahun 1995 hingga tahun 1999 pada subyek yang mengkonsumsi garam standar,yaitu garam yang mengandung 99,6 % sodium chloride dan 0,4 % zat additive sebagai kelompok kontrol yang teragi dalam dapur 1,3 dan 5 ,serta subyek yang mengkonsumsi garam yang diperkaya dengan potassium,yaitu dengan kandungan 49 % sodium chloride dan 49% potassium chloride.Subyek ini merupakan kelompok eksperimental yang terbagi dalam dapur 2 dan 3.
Pemberian garam yang diperkaya dengan potasium awalnya dicampur dengan garam reguler dengan perbandingan 1 sampai 3 diawal minggu kemudian ditingkatkan dari 1:1 menjadi 1:3 selama minggu kedua dan ketiga. Sedangkan pemberian garam standar sama dalam setiap waktunya. Hasil pada penelitian ini yaitu ditemukan bahwa proporsi subyek yang meninggal karena CVD pada kelompok eksperimental lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol,yaitu pada kelompok eksperimental (27 meniggal;1310.0 per 100.000 orang setahun) sedangkan pada kelompok kontrol yaitu (66 meninggal;2140 per 100.000 orang setahun). Kematian non CVD tidak berbeda pada kedua kelompok. Selain itu pada kelompok eksperimental terlihat memiliki umur harapan hidup lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol.
Potassium sendiri merupakan ion intraseluler paling banyak dan keberadaannya diatur oleh Na+K+ATPase dalam membran plasma atau biasa disebut sodium pump atau Na+K+ pump.Sodium pump merupakan sistem transpor aktif yang bertanggung jawab untuk pemeliharaan transmembran gradien Na dan K. Gradien ini menyediakan energi untuk beberapa fungsi selular penting (misalnya, kontrol potensial membran, volume sel, dan pH). Ini mencakup sel-sel dalam pembuluh darah (misalnya, endotel sel, sel-sel otot polos, dan saraf adrenergik) dan dalam jaringan yang mengelilingi mereka (misalnya, infark otot, tulang otot, otak) (Haddy et al.,2006).Potassium ini berkebalikan dengan Natrium. Pada saat natrium tinggi dalam plasma maka kalium banyak ditemukan di dalam sel dan jika asupan potassium menigkat maka ekskresi natrium akan meningkat pula. Hal inilah merupakan salah satu mekanisme potassium dalam menurunkan tekanan darah dan mengurangi resiko penyakit jantung,stroke dan hipertensi. Mekanisme lain yaitu konsumsi tinggi potensium dalam jangka waktu lama dapat meningkatkan pergantian Na+K+ATPase, menstimulasinya didalam sel otot vaskular dan sistem syaraf andregenik menghasilkan vasodilatasi otot-otot jantung. Selain itu peningkatan konsumsi potassium dapat meningkatkan produksi adrenal yaitu aldosteron,dimana aldosteron bekerja untuk mengatur keseimbangan Natrium Potassium di dalam tubuh (Haddy et al.,2006;Andy,2009;Adrogue dan Madras,2007). Penelitian He et al., (2005) menunjukkan pada individu yang mengkonsumsi potasium chloride dan potasium sitrat memiliki aktivitas renin atau aldosteron daripada kontrol.
Natrium sendiri merupakan ion yang banyak berada dalam plasma darah dan berfungsi mengatur permeabilitas sel serta pergerakan cairan,glukosa,insulin,dan asam –asam amino. Dengan demikian natrium menjadi unsur pokok dalam pengaturan keseimbangan asam basa,penghantaran impuls syaraf dan kerja otot. Jika Natrium jumlahnya berlebihan maka akan terjadi rasa haus yang merangsang untuk banyak minum. Cairan yang kita minum memang akan mengencerkan Natrium dalam plasma tetapi akibatnya volume Na dan cairan meningkat, dan apabila ginjal tidak segera dapat menghilangkan kelebihan cairan dengan natrium,maka akan membuat volume darah yang masuk ke jantung menjadi lebih besar,sehingga pada kasus hipertensi sangat beresiko terkena penyakit jantung karena beban kerja jantung yang terlalu berat,dan apabila pembuluh darah arteri tidak kuat,dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah dan menyebabkan stroke total atau iskhemik (Haddy et al.,2006;Andy,2009;Adrogue dan Madras,2007).
Untuk mencegah terjadinya peningkatan tekanan darah yang dapat beresiko terhadap serangan stroke dan penyakit jantung,diperlukan pengaturan khusus dalam konsumsi makanan. Oleh karena itu dikenal istilah DASH Diet (Dietary Approaches to Stop Hypertansion). Anjuran dari DASh Diet diantaranya adalah meningkatkan konsumsi sayuran dan buah-buahan, Peningkatan Potassium ditingkatkan dari rata-rata 2 gram menjadi 5 gram sehari, dan konsumsi rendah sodium dengan rata-rata konsumsi tidak lebih dari 1500 mg/hari (Haddy et al.,2005)
Conclussion
Reference- Kenaikan konsumsi potassium menurunkan kematian akibat jantung koroner dan meningkatkan umur harapan hidup subyek CVD,sedangkan konsumsi tinggi sodium meningkatkan secara signifikan kematian akibat penyakit kardiovaskular
- Jenis Potassium tidak mempengaruhi tekanan darah
- Konsumsi potassium dapat meningkatkan aktivitas renin atau aldosteron.
- Pencegahan Hipertensi dapat dilakukan dengan pengaturan pola makan melalui DASH Diet
Adrogue J Horacio,Madias C Nicholas M.D,2007,Sodium and Potassium in the Pathogenesis of Hypertension,The New England Journal Of Medicine
Chang Yi-Hsing,Hu Whuei-Yu,Yue Jack Ching-Syang,Wen-Wen Yu,Yeh We-Ting,Hsu Li-San,Tsai Shin-Tsai,Pan Wen-Harn, Effect of potassium-enriched salt on cardiovascular mortality and medical expenses of elderly men, Am J Clin Nutr 2006;83:1289–96. Printed in USA.
Haddy J. Francis,Vanhoutte M Paul,Feletou Michel,2005, Role of potassium in regulating blood flow and blood pressure, Am J Physiol Regulatory Integrative Comp Physiol 290:546-552, 2006. doi:10.1152/ajpregu.00491.2005
He Feng J, Markandu D Nirmala,Coltart Rosemery,Barron Jeffrey,MacGregor A.Graham,2005, Effect of Short-Term Supplementation of Potassium Chloride and Potassium Citrate on Blood Pressure in Hypertensives,Journal of American heart Association
Umesawa Mitsumasa,Iso Hiroyasu,Date Chigusa,Yamamoto Akio,Toyoshima Hideaki,Watanabe Yoshiyuki,Kikuchi shogo,Koizumi Takaaki,Inaba Yutaka,tanabe Noohito,Tamakoshi Akiko,The JACC Study Group,2008, Relations between dietary sodium and potassium intakes and mortality from cardiovascular disease: the Japan Collaborative Cohort Study for Evaluation of Cancer Risks, Am J Clin Nutr 2006;83:1289–96. Printed in USA.
No comments:
Post a Comment