[Artikel ini telah dikirim ke beberapa Redaksi Surat Kabar, tapi ga diterima - kurang mantap katanya]
Analogi Solusi Kasus Pangan terhadap Korupsi
Di tengah sumber daya alam melimpah tampaknya antara korupsi dan kemiskinan telah berjalan sinergis di negeri kita yang baru saja memperingati kemerdekaan ke 65. Upaya Indonesia menurunkan angka kemiskinan dalam 10 tahun terakhir tidak berwujud nyata. Jumlah penduduk miskin tetap saja memprihatinkan dan tinggi (Detik.com, 23 September 2010).
Walaupun bangsa Indonesia sedang menjalani sistematika negara yang baru, namun kasus korupsi masih saja selalu mengikuti langkah perjalanan bangsa ini. Korupsi adalah penyakit yang menggerogoti kemandirian kita sebagai bangsa. Puncak “prestasi” penyakit ini adalah dipilihnya Indonesia sebagai negara paling korup di Asia. Tumbuh suburnya korupsi telah menjadi budaya hidup masyarakat Indonesia dikarenakan kita memberi ruang hidup dan membiarkan penyakit tersebut menjalar. Lebih parah lagi karena para koruptor menyokong dan menikmatinya. Akan tetapi, jika bangsa kita ingin mandiri, tidak ada pilihan lain kita harus memberantas penyakit koronis yang bernama korupsi ini hingga keakar-akarnya.
Yang menjadi pertanyaan, bagaimana cara pemberantasan yang paling efektif? Pemberantasan korupsi sama halnya dengan pencegahan Kasus Typhoid Mary di New York City Pada Tahun 1900an. Nama kasus ini diambil dari seorang juru masak terkenal, Mary Mallon, yang ditemukan sebagai karier demam typhoid. Karena menolak untuk dilakukan operasi kandung empedu, dia dipenjara selama 3 tahun. Setelah keluar dari penjara, Mary Mallon berjanji untuk tidak menjadi juru masak lagi, namun dilanggarnya, dan menyebarkan demam typhoid lagi pada lebih banyak orang, sehingga akhirnya dia dipenjara seumur hidup. Salmonella serotipe typhi beradaptasi dengan Mary Mallon demikian uniknya dan pada saat itu Mary Mallon merupakan tempat hidup dari organisme ini, sedangkan dia tidak merasakan efek apapun dalam hidupnya sebagi dampak terdapatnya mikroba Salmonella Typhi dalam tubuhnya. Akan tetapi Mary Mallon memberi dampak buruk bagi linkungan dengan tersebarnya mikroba Salmonella Typhi. Mikroba ini berdiam dalam empedu, bahkan di bagian dalam batu, dan secara intermitten mencapai lumen usus dan diekskresikan ke feses, sehingga mengkontaminasi air atau makanan (pangan) dan menyebabkan penyakit demam typhoid. Demam typhoid adalah infeksi demam sistemik akut yang nyata pada fagosit mononuclear dan membutuhkan tatanama yang terpisah.
Olehkarena itu, menurut saya solusi pemberantasan korupsi dapat dianalogikan dengan masalah pangan yang disebabkan oleh mikroba Salmonella Typhi ( Kasus Typhoid Mary di New York City). Dengan susunan analogi sebagai berikut, yaitu: Mary Mallon dianalogikan sebagai para koruptor, pertumbuhan optimum dari Salmonella Typhi menjadi demam Typhoid dianalogikan sebagai penyakit koronis bangsa (korupsi), dan lingkungan Mary Mallon dianalogikan sebagai masyarakat Indonesia yan menerima akibat dari kelakuan para koruptor.
Typhoid dan Korupsi
Demam typhoid dan korupsi merupakan dua hal yang ekuivalen. Dampak yang terjadi pada Kasus Typhoid Mary memiliki kesamaan pada dampak yang terjadi pada setiap kasus korupsi. Pada Kasus Typhoid Mary, lingkungan menjadi penerima dampak buruk dengan terserang penyakit demam typhid, sedangkan Mary tidak merasakan efek dari mikroba Salmonella Typhi yang terdapat pada dirinya. Dan pada kasus korupsi, masyarakat yang menerima dampak dari tindakan korupsi, sedangkan para koruptor tidak merasakan dampak kerugian yang telah ia perbuat.
Olehkarena itu, cara efektif untuk memberantas korupsi adalah sama dengan pencegahan pada Kasus Typhoid Mary. Pertama, Dalam pencegahan salmonellosis yang penting adalah memperhatikan standar air, dan makanan harus dimasak atau disimpan dengan baik. Suhu dibawah 40C akan menghambat proliferasi Salmonella dalam makanan, sedangkan suhu diatas 600C bisa membunuh mikroorganisme. Dan pada korupsi yang penting adalah dengan tidak memberi ruang gerak, tidak memberi tempat yang nyaman bagi korupsi untuk terus tumbuh dan menjalar dalam hidup kita. Kita harus menciptakan sistem kekebalan dan sitem yang mampu melawan serangan penyakit korupsi ini. Cara ini bisa terwujud apabila terwujudnya juga sebuah pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Pemerintahan yang bersih adalah pemerintahan yang dijalankan oleh orang-orang yang menjungjung tinggi nilai-nilai moral dan agama yang dianut oleh masyarakat. Sedangkan pemerintahan yang berwibawa adalah pemerintahan yang memiliki hubungan kemitraan dengan masyarakat yang saling menguntungkan, yang mampu memenuhi aspirasi dan kebutuhan masyarakat, dan masyarakat turut berkontribusi dalam mencapai tujuan pemerintahan. Untuk menjamin terciptanya pemerintahan yang bersih dan berwibawa, diperlukan penata hukum yang lengkap dan upaya penetapan – pelaksanaan atas sanksi bagi yang telah melanggar hukum dengan tegas.
Kedua, Pengalaman sedunia menunjukkan bahwa perbaikan sanitasi lingkungan, termasuk pembuangan limbah dan pemasokan air, akan menurunkan insiden demam typhoid dengan tajam. Dan aplikasi dalam korupsi adalah penegakan supermasi hukum dilakukan secara up-down, artinya komitmen teladan diberikan oleh top manajemen, akan tetapi yang menerima komitmen teladan membuka diri dan menanamkan jiwa nasionalisme agar komitmen berjalan secara sempurna. Terdapatnya sikap yang bersih pada lingkungan atau pemerintahan juga akan pempengaruhi jumlah kasus korupsi pada bangsa ini. Karena lingkungan sangat mempengaruhi sifat manusianya. Tidak hanya itu, dengan tertanamnya rasa saling memiliki kekayaan bangsa ini akan membuat bangsa kita malu dan bebas korupsi. Korupsi tidak hanya berperan sebagai budaya hidup masyarakat Indonesia, akan tetapi juga sebagai perusak kondisi perekonomian bangsa. Sejak KPK berdiri, ada sekitar 50 perkara korupsi pengadaan barang dan jasa yang ditindaklanjuti KPK yang nilainya mencapai 35 persen dari total nilai proyek pengadaan barang dan jasa pada periode tersebut. Sementara itu, sampai dengan November 2009 tercatat 2.100 pengaduan masyarakat yang terkait pengadaan barang dan jasa pemerintah.
Tentunya kita tidak ingin selalu berada dalam keadaan keterpurukan. Melakukan hal-hal yang terpuji memulai dari diri sendiri adalah suatu langkah kecil yang akan berdampak besar bagi kemajuan bangsa dan negara kita.
Penulis
Ellyas Alga Nainggolan
Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Pangan (ITP-THP)
Universitas Brawijaya, Malang – Jawa Timur
Artikel yang lain:
No comments:
Post a Comment